| Foto: Dok. (Joy) Skandal Data PIP di Cianjur? Nama Tercatat di SIPINTAR, Orang Tua Siswa SDN Cisarandi 1 Mengaku Tak Pernah Terima Bantuan |
INFO NEWS | CIANJUR – Dugaan ketidaksesuaian penyaluran Program Indonesia Pintar (PIP) kembali mencuat di Kabupaten Cianjur. Sejumlah orang tua siswa mengaku anak mereka tidak pernah menerima bantuan saat masih bersekolah di tingkat Sekolah Dasar, meski dalam data resmi SIPINTAR justru tercatat sebagai penerima bantuan pada tahun 2022.
Kasus ini terungkap setelah beberapa orang tua siswa di Desa Cisarandi, Kecamatan Warungkondang, mempertanyakan data bantuan yang muncul dalam sistem pemerintah. Mereka mengaku tidak pernah menerima dana tersebut selama anak mereka bersekolah di SD.
Salah satunya disampaikan oleh Iki Muhamad Rizky (43), warga Kampung Cibening RT 001 RW 004, Desa Cisarandi, Kecamatan Warungkondang, Kabupaten Cianjur. Ia mengungkapkan bahwa anaknya, Artami Putri Rizky, saat bersekolah di SDN Cisarandi 1 hingga lulus pada tahun 2024, tidak pernah menerima bantuan PIP.
"Buku tabungan memang ada di rumah, tapi anak saya mendapatkannya saat sudah sekolah di SMP. Sekarang anak saya sudah duduk di bangku SMP kelas 8,” ujarnya saat ditemui di kediamannya, Senin (9/3/2026).
Ia juga mengaku heran setelah pihak sekolah di tingkat SMP menyampaikan bahwa anaknya sebenarnya sudah tercatat sebagai penerima bantuan PIP sejak masih bersekolah di SD.
"Dari pihak SMP bilang bahwa anak saya waktu di SD juga tercatat menerima PIP. Harusnya buku tabungan itu dari pihak SD, bukan dari SMP,” katanya.
Menurutnya, selama anaknya bersekolah di SDN Cisarandi 1, tidak pernah ada pemberitahuan ataupun pencairan dana bantuan PIP kepada dirinya sebagai orang tua.
"Anak saya tidak pernah mendapatkan bantuan PIP waktu di SD. Tapi anehnya waktu di SMP justru mendapatkan bantuan dan memiliki buku tabungan,” ungkapnya.
Keluhan serupa juga disampaikan Fitriani (44), warga Kampung Cibening RT 003 RW 002, Desa Cisarandi. Ia mengatakan anaknya, Avely Salvina, yang juga merupakan lulusan SDN Cisarandi 1 tahun 2024, tidak pernah menerima bantuan PIP selama bersekolah di tingkat SD.
"Buku tabungan Simpel memang ada di rumah, tapi itu didapat saat anak saya sudah sekolah di SMP. Sekarang anak saya juga sudah kelas 8 SMP,” ujarnya.
Fitriani menegaskan bahwa selama anaknya bersekolah di SD, pihak keluarga tidak pernah menerima bantuan tersebut meskipun data dalam sistem menunjukkan sebaliknya.
"Anak saya tidak pernah mendapatkan bantuan PIP waktu di SD, tapi dalam data katanya tercatat sebagai penerima tahun 2022,” katanya.
Muhamad Saepudin, Kepala Sekolah SDN Cisarandi 1, saat dikonfirmasi awak media mengatakan dirinya baru menjabat sebagai kepala sekolah di tempat tersebut sekitar satu minggu.
"Saya baru menjabat di sini sekitar satu minggu, tepatnya saat memasuki bulan Ramadan,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa berdasarkan data sementara yang diperolehnya, pada tahun 2022 terdapat sekitar 72 siswa yang tercatat sebagai penerima bantuan PIP di sekolah.
"Memang pada waktu itu penerima PIP belum memiliki buku tabungan dan sempat dilakukan secara kolektif,” jelasnya.
Namun demikian, ia menegaskan akan melakukan penelusuran lebih lanjut untuk memastikan apakah dana tersebut sudah dicairkan atau masih berada di rekening bank.
"Kalau memang sudah dicairkan, nanti akan kami telusuri siapa yang mencairkannya. Tapi kalau masih ada di bank, maka harus segera disalurkan kepada penerima yang berhak,” tegasnya.
Ia juga menegaskan bahwa apabila benar terdapat dana bantuan yang belum diterima oleh siswa yang berhak, maka dana tersebut harus dikembalikan kepada penerima manfaat.
"Kalau memang hak mereka, ya harus dikembalikan kepada penerima yang berhak,” pungkasnya.
Terpisah,Rega Gustian Rachmadi operator sekolah SDN Cisarandi 1, saat dikonfirmasi di sekolah mengatakan dirinya mulai menjabat sebagai operator sejak tahun 2022.
"Selama saya menjadi operator PIP, saya tidak melihat ada nama Artami Putri Rizky dan Avely Salvina,” ujarnya, Selasa (10/3/2026).
Namun setelah diminta kepala sekolah untuk mengecek kembali data tahun 2022, ia mengaku menemukan nama kedua siswa tersebut, tetapi tercatat sebagai penerima jalur aspirasi, bukan penerima reguler.
"Datanya memang ada setelah saya cek kembali, tapi bukan reguler melainkan aspirasi. Kalau yang aspirasi saya tidak tahu,” katanya.
Ia menegaskan bahwa selama ini dirinya hanya mengelola data penerima PIP reguler yang terdaftar dalam sistem Dapodik.
"Saya hanya mengurus yang reguler saja. Untuk PIP aspirasi saya tidak tahu menahu, tidak pernah mengerjakan dan tidak tahu apakah sudah dicairkan atau belum,” jelasnya.
Menurutnya, jika memang terdapat bantuan PIP dari jalur aspirasi, hal tersebut sebaiknya ditelusuri langsung melalui pihak bank untuk mengetahui apakah dana tersebut sudah dicairkan atau belum.
"Kalau memang benar ada, kita sama-sama buktikan ke bank. Dari situ akan kelihatan siapa yang mencairkan. Saya siap membantu karena saya tidak merasa pernah menerima ataupun mencairkan PIP aspirasi,” ujarnya.
Hingga berita ini diturunkan, persoalan tersebut masih menjadi tanda tanya dan diharapkan dapat segera ditelusuri untuk memastikan kejelasan penyaluran bantuan PIP kepada siswa yang berhak.
Joy

