| Foto: Dok. (Joy) Skandal PIP: SMP Bustanul Ulum Kembalikan Uang Penerima Manfaat, Aneh! Siswa Dropout Masih Tercatat Sebagai Penerima, nampak dalam gambar Guru SMP Bustanul Ulum sedang mengembalikan uang PIP. |
INFO NEWS | CIANJUR – Dugaan ketidaksesuaian penyaluran dana Program Indonesia Pintar (PIP) mencuat di lingkungan SMP Bustanul Ulum, Desa Mekarjaya, Kecamatan Mande, Kabupaten Cianjur,Jawa Barat .Sedikitnya 15 orang tua siswa penerima manfaat mengaku anak-anak mereka tercatat menerima bantuan selama beberapa tahun di aplikasi resmi pemerintah, namun dana tersebut disebut tidak pernah diterima secara utuh, bahkan ada yang tidak menerima sama sekali.
Keluhan itu disampaikan para orang tua dari tiga lokasi berbeda, yakni Kampung Tegal Panjang, Kampung Pawati, dan Kampung Pasir Banen. Mereka mempertanyakan transparansi penyaluran bantuan pendidikan yang seharusnya membantu biaya sekolah, tetapi justru menimbulkan tanda tanya di kalangan penerima manfaat.
Aidah (51), warga Kampung Tegal Panjang RT 002/RW 001, Desa Mekarjaya, mengungkapkan anaknya, Denis Aditia, saat bersekolah di SMP Bustanul Ulum tercatat sebagai penerima bantuan PIP berturut-turut pada 2022, 2023, 2024, hingga 2025. Namun, ia mengaku tidak pernah menerima bantuan tersebut selama anaknya menempuh pendidikan.
"Di aplikasi SIPINTAR tercatat empat tahun menerima, tapi saya tidak pernah menerima bantuan PIP itu,” ujar Aidah kepada awak media, Jumat (6/2/2026).
Saat ditanya soal buku tabungan, Aidah menyebut buku tabungan anaknya tidak ada di rumah. Ia menduga buku tersebut masih berada di pihak sekolah.
"Buku tabungan tidak ada di rumah. Katanya ada di sekolah. Sekarang anak saya sudah sekolah di SMK Kujang Pilawa, kelas 10,” katanya.
Keluhan serupa disampaikan Neni (57), warga Kampung Pasir Banen RT 001/RW 003, Desa Mekarjaya. Ia mengungkapkan anaknya, Via Sintia, tercatat menerima bantuan PIP pada 2022, 2023, 2024, dan 2025. Namun, ia mengaku hanya pernah menerima bantuan sekali, yakni pada 2025 sebesar Rp375 ribu.
"Di SIPINTAR tercatat empat tahun menerima bantuan, tapi saya hanya menerima sekali di tahun 2025 sebesar Rp375 ribu,” ujarnya.
"Menurut Neni, buku tabungan anaknya kini berada di rumah karena sempat dibuat baru saat masuk ke SMP. Sekarang anak saya juga sudah sekolah di SMK Kujang Pilawa, kelas 10,” katanya.
| Foto: Dok. (Joy) Nampak dalam gambar para orang tua penerima manfaat sedang menunggu pengembalian uang PIP. |
Sementara itu, Wiwin (46), warga Kampung Pawati RT 003/RW 004, Desa Mekarjaya, mengaku anaknya, Muhamad Ramdani, tercatat sebagai penerima bantuan PIP pada 2023, 2024, dan 2025. Namun, ia mengaku tidak pernah menerima bantuan tersebut.
"Di SIPINTAR tercatat tiga tahun menerima bantuan, tapi saya tidak pernah menerima sama sekali,” ujarnya.
"Wiwin menambahkan, buku tabungan anaknya juga tidak ada di rumah.Anak saya putus sekolah saat kelas 7 di SMP Bustanul Ulum,” katanya.
Terpisah, Ida Farida, S.Pd., mewakili pihak sekolah SMP dan SMK Bustanul Ulum, Kampung Tegal Panjang, Desa Mekarjaya, Kecamatan Mande, Kabupaten Cianjur, yang berada dalam satu naungan Yayasan Bustanul Ulum (YBU), memberikan keterangan saat diwawancarai awak media di lingkungan sekolah, Rabu (11/2/2026).
Ia menyampaikan bahwa pihak sekolah telah merealisasikan penyaluran dana Program Indonesia Pintar (PIP) kepada orang tua siswa.
"Alhamdulillah hari ini, Rabu (11/2/2026), kami telah menyelesaikan penyaluran PIP kepada orang tua siswa, dengan ketentuan mereka menerima haknya secara utuh tanpa potongan, kecuali ada tunggakan yang harus diselesaikan di sekolah. Hari ini sudah beres dan tidak ada masalah dengan masyarakat maupun orang tua siswa,” terangnya.
Saat ditanya mengenai warga Kampung Pasir Banen dan Kampung Pawati yang disebut belum menerima haknya, Ida menyebut proses klarifikasi sudah dilakukan.
"Alhamdulillah untuk warga Pawati dan Pasir Banen sudah diklarifikasi dengan kehadiran kepala dusun. Sebagian sudah datang, dan tinggal satu dua lagi yang belum terealisasi. Insyaallah besok mereka akan datang ke sini,” jawabnya.
Ia juga menyampaikan pesan kepada masyarakat penerima PIP agar siswa benar-benar aktif bersekolah.
"Untuk penerima PIP sekarang dan ke depan, siswanya harus betul-betul sekolah. Kalau kehadirannya hanya 60 atau 80 persen, saya akan mencoretnya dan tidak akan mengajukan permohonan PIP. Ini untuk memajukan anak-anak supaya rajin sekolah,” pesannya.
Terkait harapan ke depan, ia berharap sekolah dapat terus berkembang dengan dukungan berbagai pihak.
"Insyaallah dengan kemajuan SMP dan SMK Bustanul Ulum, mudah-mudahan banyak yang mendukung, termasuk dari rekan-rekan wartawan. Kami ingin berdampingan dengan orang tua murid dan masyarakat,” pungkasnya.
Joy

