Dunia Pendidikan Disulap Jadi Lembaga Ekonomi, Siswa SMPN 1 Cigombong Dipaksa Beli Kalender?

INFONEWS TV
Jumat, 16 Januari 2026 | 15:40 WIB Last Updated 2026-01-16T08:43:18Z
Keterangan gambar (Net) Gambar ilustrasi. Dunia Pendidikan Disulap Jadi Lembaga Ekonomi, Siswa SMPN 1 Cigombong Dipaksa Beli Kalender? 

INFO NEWS | BOGOR - Di Bumi Tegar Beriman, istilah alih fungsi nampaknya bukan hanya terjadi di bidang pertanahan, bangunan ataupun teknologi tapi terjadi juga di sektor pendidikan. Di SMPN 1 Cigombong, Kecamatan Cigombong, Kabupaten Bogor misalnya, tempat untuk mengenyam pendidikan bagi generasi penerus bangsa, seolah berubah fungsi menjadi lembaga ekonomi.

Bagaimana tidak? Tanpa ada pemberitahuan, sosialisasi apalagi rapat walimurid, tiba-tiba ratusan siswa didik di SMPN 1 Cigombong, diwajibkan meminta uang lebih kepada orang tua masing-masing untuk membeli selembar kalender dinding, senilai Rp10 ribu per lembar. 

" Untuk ongkos saja, kami terkadang harus pinjam agar anak bisa berangkat sekolah, penjualan kalender tidak sesuai dengan tujuan pendidikan dan kegiatan belajar. Sekolah tempat mengeyam ilmu, bukan tempat jual beli (ekonomi,red)," ungkap orang tua siswa berinisial IR (Identitas di redaksi), Jumat 16 Januari 2026.

Perempuan berusia 41 tahun asal Kecamatan Caringin itu menambahkan, pihak sekolah harusnya memperhatikan aspek ekonomi para walimurid  ketika mengambil kebijakan. Dalam menyekolahkan anak, kata dia lagi, orangtua yang berasal dari kalangan ekonomi lemah atau warga miskin berusaha sekuat tenaga agar anaknya bisa sekolah ditengah gembar-gembor pendidikan gratis.

" Bagi kami warga miskin, setiap hari harus berjuang agar anak bisa sekolah. Ongkos,seragam dan keperluan lainnya berbenturan dengan kebutuhan makan keluarga, bukan soal nilai tapi jangan menambahkan kesulitan kami," imbuhnya.

Senada dilontarkan orangtua siswa lain yakni, RHS (50) warga asal Cigombong. Ia mengatakan, kewajiban membeli kalender bagi siswa di SMPN 1 Cigombong tanpa ada pemberitahuan apapun. Belakang diketahui, kata  dia, pihak sekolah berasalan jika keuntungan dari penjualan kalender untuk kepentingan OSIS.

" Katanya untuk keperluan kegiatan OSIS, alasan itu disampaikan pihak sekolah setelah ramai berita di sejumlah media, awalnya tidak ada pemberitahuan apapun. Harusnya, dalam mengambil kebijakan disosialisasikan dulu ke orang tua siswa, meski dianggap menambah pengeluaran tapi jika ada pemberitahuan mungkin bisa dipahami," jelas RHS.

Dikonfirmasi, Kepala Sekolah (Kepsek) SMPN 1 Cigombong, Mulyana, tidak berada ditempat. Dalam penjelasannya, salah seorang guru pendidik yang enggan menyebutkan nama memaparkan, penjualan kalender senilai Rp10.000 per lembar merupakan ide atau gagasan OSIS yang bertujuan untuk menunjang kegiatan organisasi.

" Pak Kepsek sedang ke Disdik. Itu program OSIS, kelebihan atau keuntungan dari penjualan kalender dinding untuk menunjang aktivitas organisasi," singkatnya.

Hasil penelusuran, selain penjualan kalender dinding dugaan praktik pungli di SMPN 1 Cigombong beragam jenisnya dimulai dari penjualan sampul raport senilai Rp70.000 - Rp80.000 hingga pungutan pas fhoto bagi setiap siswa senilai Rp40.000 sehingga kerap menuai protes orang tua murid.

AR Sogiri
Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Dunia Pendidikan Disulap Jadi Lembaga Ekonomi, Siswa SMPN 1 Cigombong Dipaksa Beli Kalender?

Trending Now