INFO NEWS | SUKARESMI - Pernyataan Kades Cikancana yang mengatakan mendapat gaji bulanan dari Perusahaan Peternakan Ayam Petelur Baru Limus/PT. Lina Maya Bumi Indonesia (LMBI), pernyataan kontroversial tersebut selain meresahkan warganya, juga mendapat bantahan dari pihak perusahaan.
Hal tersebut terungkap saat awak media mewawancarai Firdaus selaku Manager PT. LMBI, menurut dia, itu merupakan pengakuan yang tidak benar.
" Itu pengakuan yang tidak benar, karena sekecil apapun pengeluaran perusahaan harus ada catatannya," jelas Firdaus, Senin (12/1/2026).
" Bahkan, kita juga tidak pernah memberikan gaji bulanan ke Pak Kades Cikancana," bebernya.
Selanjutnya ia kembali menegaskan bahwa pernyataan yang dilontarkan Kepala Desa Cikancana tidak benar.
" Jadi pengakuan tersebut tidak benar," tandasnya.
Kemudian pihak perusahaan melalui Manager PT. LMBI mengajak awak media untuk menyaksikan pembagian santunan kepada warga terdampak, yang sebelumnya kades cikancana menyarankan penangguhan, yang mengatakan santunan jangan dulu diterima, sebelum perbaikan drainase selesai.
Sebelumnya, pada Rabu, 7 Januari 2026 terjadi peristiwa air hujan bercampur lumpur masuk ke rumah warga, yang diduga berasal dari luapan drainase perusahaan peternakan ayam petelur barulimus- sukaresmi.
Saat itu Nanang selaku Kepala Desa Cikancana ketika dikonfirmasi awak media terkait peristiwa tersebut mengatakan. Pihak perusahaan siap memberikan santunan kepada warga terdampak.
" Pihak perusahaan siap memberikan santunan kepada warga terdampak," ujarnya.
" Ya, Pak R owner perusahaan orangnya terbuka mau mendengar keluhan warga, ia pun membuatkan Mushola bagi pekerja, bahkan ke para pekerja kalau waktu sholat tiba sering mengingatkan. Ngapain dibangunkan Mushola jika tidak dipakai," ujarnya menirukan ucapan owner.
Lanjut Kades Cikancana: " Saya dipeternakan ini digajih kang, ya lumayan perbulannya sekitar 4 juta," akunya sambil menunjukkan lokasi peternakan ayam petelur.
Berikutnya pada Selasa, 13 Januari 2026 Ketika akan dilakukan wawancara susulan, Kepala Desa Cikancana melakukan aksi pengusiran kepada awak media.
" Teu kudu wawancara. Jung indit teu perlu media!," ketusnya menggunakan bahasa daerah.
Rafli/Dri.

