| Keterangan Foto: Petugas dari tim gabungan sedang berusaha mencari keberadaan korban akibat munculnya gas karbon monoksida (CO) di L.700 PT Antam |
INFO NEWS | BOGOR - Insiden munculnya gas karbon monoksida (CO) pada Rabu 14 Januari 2026 lalu, akibat terbakarnya kayu penyangga di lubang tambang area L.700 PT Antam Tbk, Unit Bisnis Penambangan Emas ((UBPE) Pongkor di Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor, yang menyebabkan 11 orang penambang emas liar alias gurandil meninggal dunia terus menuai sorotan.
Pemerhati Sosial sekaligus aktivis di Bogor Raya, Achmad Rohani, meminta aparat penegak hukum (APH) bertindak secara professional juga transparan dalam mengusutnya, serta menangkap pihak-pihak yang terlibat secara langsung maupun tidak langsung untuk diproses hukum.
" Ini merupakan tragedi kemanusiaan. Polisi harus menangkap dalang dibalik aktivitas para gurandil yang menjadi korban, juga memproses hukum pihak yang bertanggung jawab atas terbakarnya kayu penyangga di area lubang tambang PT Antam," ujar Rohani, pada Senin 26/01/2026.
Menurut dia, maraknya aktivitas penambangan emas tanpa izin (PETI) di Gunung Pongkor area PT Antam, Kecamatan Nanggung dan Gunung Guruh, Kecamatan Cigudeg, merupakan bentuk kegagalan pemerintah daerah dalam menangani aspek kebutuhan ekonomi masyarakat di wilayah Bogor Barat. Artinya, kata Rohani lagi, diperlukan solusi ekonomi berkelanjutan agar tidak ada lagi gurandil-gurandil di Bumi Tegar Beriman.
" Meski diberada diatas tanah yang mengandung mineral emas, tapi masyarakatnya dipaksa hidup dalam kemiskinan. Jadi seorang gurandil itu keterpaksaan demi keluarga di rumah agar bisa makan, ini fenomena sosial yang memprihatinkan," imbuhnya.
Ia juga menilai, aparat penegak hukum selama ini dianggap tidak serius dalam mengungkap pelaku utama atau pemodal dari aktivitas gurandil di Kecamatan Cigudeg dan Kecamatan Nanggung, meski sudah mengantongi identitas para bos galian emas ilegal. Jika penegakan hukum dijalankan secara professional dan tegas, sambungnya, persoalan gurandil dapat ditangani.
" Penambang emas liar atau gurandil itu, tidak bisa bekerja sendiri. Mereka terpaksa mengambil resiko karena himpitan ekonomi, artinya ada pemodalnya dan itu mudah diidentifikasi jika APH serius menjalankan hukum," paparnya.
Rohani juga menyampaikan, identitas para pemodal atau pemilik lubang emas ilegal di Kecamatan Cigudeg dan Kecamatan Nanggung, sering muncul dalam pemberitaan sejumlah media. Juga dapat dicari keberadaannya, berdasarkan pengakuan masyarakat misalnya H Engkos Cigudeg, H Enday Malasari atau Bos Mumu Bantar Karet yang diduga jadi pemodal para gurandil alias pemilik lubang.
" Penegakan sanksi hukum tinggal dijalankan melalui proses penyelidikan hingga penyidikan terhadap pihak-pihak yang diduga jadi aktor utama dibalik para gurandil, tapi harus mengedepankan asas praduga tak bersalah," jelasnya.
H Engkos asal Kecamatan Cigudeg, salah seorang yang diduga menjadi pemodal gurandil alias pemilik lubang emas ilegal, saat dikonfirmasi melalui selulernya, berdalih tidak lagi menjalankan aktivitas penambangan emas secara liar dan mengaku sudah menyampaikan hal tersebut kepada pihak kepolisian.
" Saat ini saya tidak beroperasi atau lock down pak.Hal ini sudah disampaikan ke pihak kepolisian, kalau pemilik lubang yang lain memang masih berjalan,' singkatnya.
Sementara H Enday asal Malasari Kecamatan Nanggung, yang disebut-sebut Bos Gurandil terbesar namun juga disebutkan saat ini berdomisili di Kecamatan Cigudeg, saat dihubungi via selulernya belum memberikan pernyataan atas dugaan keterlibatannya dibalik aktivitas gurandil yang menjadi korban gas karbon monoksida (CO) di lubang tambang PT Antam pada 14 Januari 2026 lalu.
Sementara itu, Kapolsek Nanggung, AKP Ucup Supriatna mengatakan, hingga saat ini belum ada lagi laporan masyarakat yang kehilangan keluarga ke pos siaga atau pos pengaduan pasca terjadi tragedi gas karbon monoksida (CO) di PT Antam akibat terbakarnya kayu penyangga di L.700. Meski begitu, AKP Ucup menegaskan, jajarannya terus melakukan sosialisasi ke tiap-tiap desa melalui bhabinkamtibmas.
" Belum ada laporan warga yang merasa kehilangan keluarganya. Bhabinkamtibmas terus mencari informasi dari warga di masing-masing desa, hingga saat ini juga proses evakuasi atau pencarian korban masih dilakukan," kata Kapolsek.
AR Sogiri

