| Foto: Dok. (Yunus/Arkam) Prioritas pembangunan di sekitar pondok pesantren bukan tanpa alasan. Pesantren menjadi area paling terdampak, di mana bibir Sungai Cisadane tinggal beberapa meter dari bangunan |
INFO NEWS | BOGOR - Warga Kampung Panyabrangan RT 04-05 RW 02, Desa Sukasari, Kecamatan Rumpin, Kabupaten Bogor, bersama PT CI memulai pembangunan turap di bantaran Sungai Cisadane, Sabtu (12/9/2026). Pembangunan darurat ini dipicu ancaman erosi dan longsor yang kian menggerus bibir sungai.
Proyek sepanjang 20 meter tersebut sangat timpang dengan tuntutan warga. Warga terdampak sejatinya menuntut penanganan sepanjang 500 meter. Pembangunan ini merupakan tindak lanjut musyawarah pada Jumat (11/9/2026). Lokasi turap berbatasan langsung dengan Desa Rumpin.
Pengerjaan diawali dengan persiapan bronjong wiremesh yang akan diisi batu, dilanjutkan dengan pekerjaan cut and fill menggunakan alat berat untuk meratakan bidang penurapan. Warga dan perusahaan sepakat memulai dari titik paling rawan, yakni lingkungan pondok pesantren.
Kesenjangan antara kebutuhan dan realisasi ini disoroti tokoh masyarakat setempat, Muhyi Burik. Ia menegaskan pembangunan 20 meter ini baru langkah awal di titik kritis.
" Pihak perusahaan (PT. CI) telah membantu menurunkan alat berat eksavator. Sebenarnya tuntutan warga terdampak yaitu sepanjang kurang lebih 500 meter wilayah bantaran sungai Cisadane yang terkena erosi atau longsor," ungkapnya.
Ia berharap pihak perusahaan dan pemerintah mendukung peran serta masyarakat dalam memelihara ekosistem dan keasrian lingkungan.
" Kami berharap pihak perusahaan dan pihak pemerintahan yang melaksanakan penanganan kerusakan lingkungan tersebut sampai selesai dilakukan, sesuai kondisi yang ada saat ini," katanya.
| Foto: Dok. (Yunus/Arkam) Warga Kampung Panyabrangan RT 04-05 RW 02, Desa Sukasari, Kecamatan Rumpin, Kabupaten Bogor, bersama PT CI memulai pembangunan turap di bantaran Sungai Cisadane, Sabtu (12/9/2026). Pembangunan darurat ini dipicu ancaman erosi dan longsor yang kian menggerus bibir sungai |
Fakta krusial lainnya adalah absennya peran pemerintah dalam penanganan bencana ekologis ini. Hal itu diakui Jaro Dede, perwakilan PT CI yang juga Ketua RW 09.
" Pengerjaan ini murni dilakukan secara swadaya masyarakat dibantu oleh pihak perusahaan," ungkapnya.
" Sejauh ini belum ada campur tangan dari pihak pemerintahan manapun. Adapun kendala terhadap pelaksanaan pekerjaan yaitu mencari material batu untuk mengisi wiremesh besi sepanjang 20meter," jelasnya.
Kritisnya situasi ini tidak lepas dari jejak masa lalu. Menurut kesaksian para tokoh, lokasi penurapan saat ini merupakan bekas tambang pasir dan batu sejak 1985 yang ditinggalkan puluhan tahun tanpa reklamasi, hingga menyisakan kerusakan lingkungan. Kini, perusahaan yang sama disebut akan kembali menggarap lahan tersebut. Warga memberikan izin dengan syarat mutlak: perusahaan wajib memulihkan kerusakan lingkungan yang telah terjadi.
Prioritas pembangunan di sekitar pondok pesantren bukan tanpa alasan. Pesantren menjadi area paling terdampak, di mana bibir Sungai Cisadane tinggal beberapa meter dari bangunan.
Sesepuh pondok pesantren, Abuna, menyatakan dukungan penuh atas inisiatif warga tersebut.
" Sangat mendukung sekali terhadap kegiatan ini dimana kegiatan tersebut sangat bermanfaat sekali karena untuk mencegah erosi yang berkelanjutan yang sedikit lagi bibir sungai Cisadane mencapai bangunan pondok pesantren," katanya.
Pembangunan turap 20 meter secara swadaya ini menjadi potret telanjang abainya tanggung jawab pemulihan lingkungan pascatambang dan lambannya kehadiran negara di wilayah rawan bencana.
Reporter: Yunus/Arkam

