Produktivitas Demplot Padi Organik Cianjur Tembus 8 Ton per Hektare, Pemkab Kaji Perluasan

INFONEWS TV
Kamis, 30 Juli 2026 | 17:36 WIB Last Updated 2026-07-30T10:38:14Z
Foto: Dok. (Joy) Bupati Cianjur dr. Mohammad Wahyu Ferdian mengatakan hasil demplot tersebut menjadi indikator bahwa budidaya padi organik memiliki potensi untuk dikembangkan lebih luas di Kabupaten Cianjur

INFO NEWS | CIANJUR – Demplot (demonstration plot) padi organik di Kampung Cilenjang, Desa Sukamulya, Kecamatan Warungkondang, Kabupaten Cianjur, mencatat produktivitas sekitar 8 ton gabah per hektare. Capaian tersebut berada di atas rata-rata hasil panen padi konvensional yang selama ini berkisar 5 hingga 6 ton per hektare. Hasil itu disampaikan dalam kegiatan panen raya yang digelar pada Kamis (30/7/2026).

Panen raya dihadiri Bupati Cianjur dr. Mohammad Wahyu Ferdian, Sp.OG, perwakilan Bank Indonesia, jajaran Dinas Tanaman Pangan Hortikultura Perkebunan (DTPHP) Kabupaten Cianjur, unsur Forkopimcam Warungkondang, pemerintah desa, penyuluh pertanian, akademisi IPB University, serta kelompok tani.

Bupati Cianjur dr. Mohammad Wahyu Ferdian mengatakan hasil demplot tersebut menjadi indikator bahwa budidaya padi organik memiliki potensi untuk dikembangkan lebih luas di Kabupaten Cianjur.

" Alhamdulillah hasilnya sangat memuaskan, mencapai sekitar 8 ton per hektare. Mudah-mudahan ke depan demplot seperti ini bukan hanya ada di sini saja, tetapi bisa tersebar di seluruh kecamatan di Kabupaten Cianjur," ujarnya.

Menurutnya, pengembangan pertanian organik tidak hanya difokuskan pada komoditas padi, tetapi juga diharapkan dapat diterapkan pada komoditas pertanian lainnya.

" Harapan kami semakin banyak pertanian organik di Kabupaten Cianjur. Bukan hanya padi atau beras, tetapi juga produk-produk pertanian lainnya," katanya.

Menanggapi pertanyaan mengenai pelaksanaan program serupa di Cianjur, Bupati menjelaskan bahwa demplot pertanian organik sebelumnya telah ada. Namun, program kali ini dinilai memiliki pendampingan yang lebih menyeluruh karena melibatkan Bank Indonesia.

" Sebenarnya sudah ada beberapa yang berjalan. Namun kali ini lebih komprehensif dan dikawal langsung oleh Bank Indonesia. Hasilnya ternyata di luar ekspektasi, bahkan melebihi dari yang kami harapkan," tuturnya.

Sementara itu, Kepala Bidang Prasarana dan Sarana Pertanian (PSP) DTPHP Kabupaten Cianjur, Inna Ratna Sofia, S.P., M.I.L., M.Sc., menjelaskan bahwa demplot merupakan metode penyuluhan melalui lahan percontohan agar petani dapat melihat dan menerapkan langsung teknologi budidaya yang dikembangkan.

Menurut Inna, saat ini demplot padi organik dilaksanakan di lima kecamatan. Setiap lokasi dikelola oleh satu kelompok tani dengan luas sekitar 5.000 meter persegi atau setengah hektare.

Ia menyebut produktivitas demplot mencapai sekitar 8 ton per hektare. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan rata-rata produksi lahan yang masih menggunakan sistem budidaya berbasis pupuk anorganik.

" Ke depan akan kami kaji apakah program ini bisa diperluas atau di-scale up ke wilayah lainnya," ujarnya.

Meski demikian, Inna mengatakan capaian tersebut masih akan dievaluasi melalui kegiatan ubinan di empat lokasi demplot lainnya untuk memperoleh data produktivitas yang lebih komprehensif.

Ia menambahkan, jumlah musim tanam pada sistem pertanian organik tidak berbeda dengan pola budidaya lainnya. Intensitas panen lebih dipengaruhi oleh ketersediaan air, sehingga terdapat wilayah yang mampu panen hingga tiga kali dalam setahun, sementara daerah lain hanya dua kali.

Terkait tantangan pada musim kemarau, Inna mengakui penerapan pertanian organik memiliki masa adaptasi yang berpotensi meningkatkan risiko serangan hama dan penyakit. Namun, menurutnya, seluruh kelompok tani peserta program telah memperoleh pelatihan budidaya organik, termasuk pembuatan pestisida alami.

" Alhamdulillah seluruh petani mendapatkan pelatihan sebelum demplot dilaksanakan. Mereka dibekali teknik budidaya organik dan pembuatan pestisida alami sehingga serangan hama dapat dikendalikan. Untuk musim kemarau, tantangan utamanya adalah ketersediaan air. Syukur penanaman dilakukan tepat waktu sehingga saat musim kering tiba, tanaman sudah memasuki masa panen," pungkasnya.

Data hasil demplot tersebut selanjutnya akan menjadi bahan evaluasi Pemerintah Kabupaten Cianjur untuk menentukan kemungkinan perluasan program pertanian organik ke wilayah lain di Kabupaten Cianjur.

(Joy)

Komentar
komentar yang tampil sepenuhnya tanggung jawab komentator seperti yang diatur UU ITE
  • Produktivitas Demplot Padi Organik Cianjur Tembus 8 Ton per Hektare, Pemkab Kaji Perluasan

Trending Now